Tokoh Besar di Tepi Sejarah

  • Bagikan

Seseorang lelaki bercerita dalam sebuah kitab hikayat,”Waktu itu aku berada di dalam perahu bersama para saudagar, tiba-tiba angin kencang dalam gulungan ombak menerpa. Perahu berguncang hebat. Kami diserang panik. Perlahan air menembus di geladak perahu dan membuatnya oleng. Kami pasrah. Tiada daya. Tiada kuasa di pojokan. Terlihat sesosok lelaki terbungkus selimut berbahan bulu. Sikapnya tenang, tak sedikit pun tampak ekspresi ketakutandi raut wajahnya. Dengan langkah kalem dia beranjak meninggalkan perahu menuju derasnya gelombang. Beberapa jengkal kemudian dia berhenti. Dia mengambil posisi tegak lurus. Lalu takbir menunaikan sholat. Di situ, di atas air laut.

“Tolong kami wahai waliyullah!” teriak kami dalam keputusasaan. Lelaki itu bergeming, meneruskan khusuknya.

“Tolong kami, demi zat yang telah memberimu kekuatan untuk beribadah kepadanya.” Lelaki itu menoleh, dia memandang kami yang diliputi perasaan campur aduk.

“Ada apa dengan kalian?” dia bertanya dengan nada keheranan.

“Tidakkah anda menyaksikan kami yang hendak ditenggelamkan badai ini !?”

“Mendekatlah kepada Allah.”

“Bagaimana caranya?”

“Sirnakan dunia dari hati kalian!”

“Baik, kami telah melakukannya.”

“Sekarang bacalah bismillah. Lalu keluarlah kalian dari kapal itu.”

Kami menuruti perkataannya satu demi satu. Kami keluar dari kapal. Ajaib, kaki kami mengambang di atas permukaan laut. Kami yang berjumlah dua ratus orang atau lebih berjalan menuju dekatnya. Dari situ kami menyaksikan kapal itu karam secara perlahan dilumat oleh badai yang masih saja mengganas.

“Demi Allah siapakah anda, Tuan?”

“Aku Sa’ad bin Kholil”

“Di kapal itu terdapat harta pemberian seorang dermawan mesir untuk fakir miskin Madinah.” Lirih kami.

“Bila Allah mengembalikan harta itu, akankah kalian akan membagikan kepada mereka?”

“Tentu.” Dia lalu melaksanakan salat dua rakaat. Selepas salam, bibirnya merapalkan doa yang samar di telinganya. Apa yang tampak oleh kami selanjutnya adalah pemandangan yang sukar di cerna logika. Kapal kami yang telah kandas perlahan muncul kembali dari dasar laut. Keadaannya utuh seperti sedia kala, harta benda tak kurang sedikit pun, kami bergegas naik lagi ke atas kapal. Sementara itu, sang lelaki tadi hilang dari pandangan kami, entah kemana. Wallahu a’lam. Yang jelas, sesampainya di Madinah kami melaksanakan pesannya untuk membagikan harta pemberian kepada fakir miskin.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.