Bangga rasanya, melihat generasi–generasi muda masa kini cerdas luar biasa. Tahu sebelum waktunya. Teknologi menjadi makanan tiap hari baginya. Hebat sebelum masanya. Luas pengetahuan dan lugas penyampaiannya.

Otak mereka terus diisi. Namun, hati mereka dibiarkan mati. Misi rasionalisme telah mewabah sampai ke ubun–ubun mereka. Menjadi doktrin dan tolok ukur diterimanya sebuah keputusan. Sehingga mereka buta, tidak bisa membedakan mana ilmu dan agama. Semuanya dihakimi oleh akal.

Bangga memang melihat IQ generasi muda sekarang. Otaknya bagaikan karang, layaknya ilustrasi dalam neurosains. Tetap kokoh oleh ombak–ombak yang menerjang. Sehingga otak yang menjadi landasan. Namun, mereka pikir, dengan kecerdasan mereka bisa berkuasa. Dengan akal mereka pantas dihormati. Dengan rasionalisme mereka paling benar sendiri.

Dimana hati mereka? Masih berfungsikah kalbu itu? Yang mereka urus hanya urusan perut. Yang  mereka beri makan hanya otak. Melupakan organ pokok penyeimbang, organ pemberi petunjuk dan kebenaran. Organ yang bekerja dengan perasaan. Organ yang menjadi penentu kebaikan seluruh anggota penopangnya.

Modernisasi zaman, di mana akal jadi acuan. Akal yang berkuasa. Akal yang tak berperasaan dan tak beretika. Untuk apa pintar kalau untuk membodohi yang lain. Buat apa cerdas tapi tak memberi manfaat pada sekitarnya. Dimana etika itu dicari? Kemana akhlak itu menghilang? Untuk apa hidup jika tak memberi manfaat pada lainnya.

Categories: Rangkaian

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *