Menara
Ratu Bilqis, penguasa Saba’

Di antara perempuan-perempuan yang dikisahkan dalam al-Quran adalah Ratu Bilqis, penguasa Saba’. Kisahnya diabadikan dalam al-Quran surah an-Naml ayat 23-44. Tentu setiap kisah yang termaktub dalam al-Quran mengandung nilai positif yang bisa diteladani. Tokoh yang dikisahkan pun tentu memiliki berbagai keistimewaan, begitu pula penguasa negeri Saba’ ini.

Namanya Bilqis binti Syarahil bin Malik bin Rayyan. Syarahil bin Malik, ayah Bilqis adalah seorang penguasa Yaman. Sedangkan ibunya berasal dari bangsa jin. Diceritakan dalam tafsir Rûh al-Ma’ânî, ayah Bilqis adalah seorang raja yang gemar berburu, bahkan tak jarang hewan buruannya itu ternyata jin yang berwujud kijang. Namun jika buruan itu berupa jin, Syarahil melepaskannya kembali. Hingga pada suatu saat, ia bertemu dengan raja jin dan dinikahkan dengan anaknya.

Ratu yang Bijaksana

                Dalam segi materiil, negeri Saba’ yang dipimpin oleh Ratu Bilqis serba tercukupi. Dalam Surah an-Naml ayat 23, negeri tersebut digambarkan dengan “dianugerahi segala sesuatu”. Selain itu, kerajaan Saba’ juga memiliki pasukan yang kuat. Hal ini tercermin dari jawaban para penasehat kerajaan saat ratu Bilqis meminta pertimbangan kepada mereka, sebagaimana diceritakan dalam surah an-Naml ayat 32-33 yang artinya, Dia (Bilqis) berkata: “Hai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”. Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”.

                Syekh Mahmud al-Alusi dalam Rûh al-Ma’ânî menyebutkan riwayat dari Qatadah, pemuka kerajaan yang diajak musyawarah oleh ratu Bilqis berjumlah 312 orang dan masing-masing dari mereka membawahi 10.000 pasukan. Kendati demikian, Ratu Bilqis tidak tergesa-gesa dan gegabah. Ia tahu betul bagaimana dampak yang terjadi pasca peperangan. Meskipun punggawa kerajaannya condong untuk berperang, dalam ayat selanjutnya, Allah menceritakan kebijaksanaan jawaban Ratu Bilqis yang artinya, Dia (Bilqis) berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.”

                Lebih lanjut, dalam Rûh al-Ma’ânî juga diterangkan kalau Ratu Bilqis memiliki perhitungan matang tentang kerajaan Nabi Sulaiman. Dalam pandangannya, jika sampai Nabi Sulaiman melancarkan serangan ke negeri Saba’, niscaya negerinya akan porak poranda. Karena itulah Ratu Bilqis lebih memilih ‘jalur damai’ dengan mengirimkan hadiah kepada Nabi Sulaiman. Saat itu ia berkata kepada kaumnya, apabila Nabi Sulaiman itu penguasa yang cinta dunia, maka harta yang dikirimkan akan membuatnya rela untuk tidak menyerang negeri Saba’. Namun jika Nabi Sulaiman itu seorang nabi, niscaya harta yang diberikan tidak akan mempengaruhinya, bahkan sudah sebaiknya penduduk Saba’ untuk ikut agama yang dibawa Nabi Sulaiman.

Ternyata Nabi Sulaiman menolak hadiah yang dikirimkannya. Dari situlah Ratu Bilqis mengetahui kebenaran nubuwwat Nabi Sulaiman. Bahkan Syekh Mahmud al-Alusi mengatakan, sebenarnya Ratu Bilqis sudah mengetahui nubuwwat Nabi Sulaiman sejak burung hud-hud menyampaikan surat kepadanya. Bagaimana mungkin ada seekor burung yang mampu untuk mengantarkan surat kepada seseorang secara khusus, padahal waktu itu dia sedang berada di dalam kamarnya.

Memiliki Kecerdasan Sempurna

                Dalam ayat 36 dan 37, diceritakan tentang penolakan Nabi Sulaiman terhadap hadiah yang dikirimkan Ratu Bilqis. Bahkan Nabi Sulaiman pun mengancam akan mendatangi negeri Saba’ dengan bala tentara yang tidak tertandingi. Mengetahui hal itu, Ratu Bilqis segera mendatangi kerajaan Nabi Sulaiman. Sebelum berangkat, Ratu Bilqis tidak lupa menyimpan singgasananya di tempat yang aman disertai pasukan-pasukan penjaga.

Namun sebelum rombongan Ratu Bilqis sampai, Nabi Sulaiman memerintahkan punggawa kerajaannya untuk mendatangkan singgasana Ratu Bilqis dan mengubah ornamernnya agar terkesan berbeda. Dalam tafsir al-Jalalain, Imam Jalal al-Mahalli menerangkan bahwa hal ini bertujuan untuk menguji ketelitian dan kecerdasan Ratu Bilqis.

Begitu Ratu Bilqis datang, ia ditanya, “Serupa inikah singgasanamu?” Ratu Bilqis menjawab, “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku.” Ujian ini dilaksanakan ketika Ratu Bilqis baru saja sampai, juga ketika dia berkeyakinan penuh bahwa singgasananya sedang tidak berada di istana Nabi Sulaiman. Namun tiba-tiba ia ditanya tentang singgasana yang ada di depan matanya. Pertanyaan yang diajukan pun disusun dengan sangat singkat: “Serupa inikah singgasanamu?” bukan “Inikah singgasanamu?”. Sebab jika ditanya dengan “Inikah singgasanamu”, niscaya akan menimbulkan jawaban “iya” atau “tidak”. Ternyata jawaban Ratu Bilqis sugguh tepat. Tidak mengiyakan, tidak menafikan, tapi sangat diplomatis. Ia menjawab dengan “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku”. Tentu jawaban semacam ini sama-sama membuka kemungkinan untuk membenarkan, juga membuka kemungkinan untuk menyalahkan, sebagaimana diterangkan oleh Imam Fakhr ar-Razi dalam Mafâtih al-Ghaib-nya. Jawaban ini disamping menunjukkan ketelitiannya, juga menunjukkan kekuatan mental yang dimiliki Ratu Bilqis.

Menerima Kebenaran

Ayat ke-44 mengisahkan setelah ditanyakan tentang singgasananya, Ratu Bilqis dipersilakan untuk masuk ke dalam Istana Nabi Sulaiman. Tatkala melihat lantainya, ia mengira itu adalah kolam yang besar. Di ujungnya, terdapat singgasana yang diduduki oleh Nabi Sulaiman. Ratu Bilqis pun melanjutkan jalannya dengan hat-hati. Kedua betisnya pun disingkapkan agar tidak basah. Melihat hal itu, Nabi Sulaiman berkata, “Sesungguhnya ia (yang engkau kira air) adalah istana licin yang terbuat dari kaca (yang amat bening).” Lantas Ratu Bilqis pun berkata, “Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku (dengan menyembah matahari) dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”. Perkataan RatuBilqis ini menunjukkan keislamannya yang sempurna, tanpa dirasuki rasa sombong maupun yang lain. Ia mengikuti ajaran yang dibawa Nabi Sulaiman. Dari kisah ini bisa dipetik pelajaran bagaimana terpujinya seseorang yang memiliki kecerdasan juga kekuasaan, namun hal itu tidak menghalanginya untuk tunduk dan patuh pada kebenaran, sebagaimana Ratu Bilqis.

Categories: Artikel

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *