Rangkai kata:

Mungkin harus ditanam dalam-dalam, bahwa mimpiku adalah mimpiku, aku yang menjalani, aku yang meraihnya. Agar tidak goyah ketika ada orang lain yang bilang “sadar diri dong”

Rangkai kata:

Jangan terlalu memaksakan diri, diteruskan besok lagi. Badanmu punya hak untuk rehat dan rebah. Hatimu juga harus kuat dan tabah.

Rangkai kata:

Kalau memang kecewa dan ingin menangis, menangislah. Itu bukan cela. Pesanku satu, kamu masih terlalu dini untuk menyerah.

Rangkai kata:

Kalau memang ada masalah, kenapa kau tidak cerita? Meskipun aku bukan tempat terpantas untukmu merentang pulang, pun bahuku tak bisa menjadi sandaran, tapi setidaknya telingaku siap mendengarkan.

Rangkai kata:

Jangan terlalu sering menoleh ke belakang. Biarlah yang lalu menjadi kenangan. Setelah kau petik ibrah dan pelajaran agar tak mengulang kesalahan yang sama, segera lanjutkan perjalanan.

Rangkai kata:

Di depanmu, aku lebih suka menyembunyikan cerita sedih. Agar saat kau ditanya tentang perbincangan kita malam ini, kau cukup menjawab “Cuma ngobrol santai sambil minum kopi.”

Rangkai kata:

Aku menunggu, dan kau membelakangiku. Apakah ini isyarat bahwa di antara kita memang tak ada takdir untuk bertemu?

Rangkai kata:

Jika kau berhak atas dirimu, atas nasibmu, atas masa depanmu, kenapa masih saja mendengarkan mereka yang mencoba merobohkan keberanianmu? Coba kau tanya lagi hatimu, hidupmu untuk apa dan untuk siapa?

Rangkai kata:

Terima kasih atas waktumu. Jujur saja, kau adalah alasan dari senyumku. Perjumpaan kita memang sesaat, tapi segala tentangmu terus melekat. Aku membayangkan kau adalah hujan, sementara aku adalah rerumput padang gersang.

Rangkai kata:

Suatu saat ketika kau sudah menjadi orang besar, sesekali tolehlah ke belakang. Ingatlah bagaimana dulu kau pernah jatuh, pernah rapuh. Tersenyumlah saat kau mengingatnya, sebab air matalah yang membuatmu lebih bermakna.

Rangkai kata:

Cukup tatap aku dalam-dalam, kau akan menemukan aku yang sebenarnya, yang masih banyak cela. Setelah itu terserah kau mau apa, aku tak berhak memaksa.

Rangkai kata:

Sering aku dengar, bencilah orang lain biasa saja, bisa jadi kelak ia adalah orang yang kau cinta. Cintailah orang lain biasa saja, bisa jadi kelak adalah orang yang tak kau suka. Memang membiasakan perasaan itu perlu. Tapi tentang rinduku malam ini, aku benar-benar putus asa untuk menjadikannya biasa saja.

Rangkai kata:

Bersanding denganmu berarti bertanggung jawab atas kebahagiaan. Bertanggung jawab atas ‘sah’ yang bersahutan. Bertanggung jawab atas pasrah yang kau titipkan. Bersanding denganmu bukanlah akhir dari tujuan. Sebab akhir yang sejati adalah bersama dalam keabadian.

Jangan lupa baca juga Rangkaian #2


1 Comment

Rangkaian #2 - Rangkai Kata Menenangkan · 12 Januari 2020 at 20:27

[…] Jangan lupa baca juga Rangkaian #1 […]

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *