Urgensitas Nahi Mungkar

Tidak kurang dari sepuluh kali al-Quran menyebutkan kata nahi mungkar. Dalam hadis, nahi mungkar juga sering disebutkan. Diantaranya riwayat dari Durrah binti Abi Lahab, beliau berkata, Rasulullah pernah ditanya, siapa orang yang terbaik? Rasul menjawab: “Orang yang paling beramar makruf nahi mungkar, paling takwa kepada Allah, dan paling bersilaturrahim.”

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, bila tidak mampu, maka dengan lisannya, bila tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itulah iman yang paling lemah.”

Amar makruf nahi mungkar bisa berhukum wajib maupun sunnah. Tergantung perbuatan yang diperintahkan dan yang dilarang. Hukum wajib dan sunnah ini muncul jika perbuatan makruh dianggap sebagai kemungkaran syar’i. Namun ketika mungkar itu diartikan sebagai perbuatan yang berhak mendapatkan siksaan, sebagaimana penafsiran makruf adalah perbuatan yang berhak mendapatkan pahala, maka amar makruf nahi mungkar ini hanya berhukum wajib.

Kewajiban amar makruf nahi mungkar ini tidak bisa terhalang dengan alasan terdapat celaan bagi orang yang mengatakan sesuatu sedangkan dia sendiri tidak mengerjakannya. Sebagaimana firman Allah dalam surat ash-Shaff ayat 2 dan 3: “Wahai orang-orang yang beriman! mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” Syeikh Mahmud al-Alusi dalam Tafsir Ruh al-Ma’ani-nya mengatakan, yang dikehendaki adalah larangan tidak mengerjakan, bukan larangan untuk berkata. Dengan demikian, meskipun seseorang masih belum bisa mengerjakan apa yang dia katakan, bukan berarti lantas diam ketika melihat kemungkaran. Sebab, sumber celaan itu karena ia tidak mengerjakan apa yang dikatakan.

                Senada dengan Syeikh al-Alusi, dalam kitab Syarh Sahih Muslimnya, Imam Nawawi menjelaskan bahwa orang yang melakukan amar makruf dan nahi mungkar tidak disyaratkan harus orang yang sempurna. Dalam artian, boleh-boleh saja seseorang itu melakukan amar makruf dan nahi mungkar meskipun dirinya masih mengerjakan apa yang dia larang terhadap orang lain. Lebih lanjut, Imam Nawawi menerangkan, justru orang yang demikian ini memiliki dua kewajiban. Pertama, dia harus memerintahkan dirinya sendiri untuk meninggalkan kemungkaran. Kedua, dia juga mempunyai kewajiban untuk melarang orang lain dari kemungkaran.

                Para ulama juga menjelaskan bahwa kewajiban amar makruf dan nahi mungkar tidak hanya dibebankan kepada penguasa. Melainkan juga setiap orang Islam secara individual. Imam al-Haramain mengatakan, bolehnya masyarakat untuk melakukan amar makruf dan nahi mungkar ini sudah merupakan ijmak umat Islam. Sebab pada masa awal-awal Islam dan periode setelahnya, justru banyak rakyat yang melakukan amar makruf dan nahi mungkar kepada para penguasa.

Meskipun amar makruf dan nahi mungkar ini boleh dikerjakan oleh setiap orang, namun ulama masih memberikan batasan-batasan khusus. Masyarakat awam hanya diperbolehkan melakukan amar makruf terhadap kewajiban-kewajiban yang sudah umum diketahui, seperti shalat dan puasa. Juga hanya diperbolehkan nahi mungkar terhadap kemungkaran-kemungkaran yang telah masyhur seperti perzinahan dan khamr. Sedangkan kemungkaran yang masih bersifat ijtihadi, nahi mungkarnya hanya boleh dilakukan oleh para ulama. Itupun Imam Nawawi masih memberikan batasan yang lebih jauh lagi, ulama hanya diperbolehkan mengingkari permasalahan yang sudah disepakati (mujma’ ‘alaih). Sedangkan permasalahan yang masih terdapat ikhtilaf tidak boleh diingkari. Sebab masing-masing mazhab memiliki mujtahid yang tidak bisa disalahkan. Toh seandainya dari mujtahid tersebut ada yang salah, tidak dianggap berdosa.

Tahapan Nahi Mungkar

Mengenai tata caranya, orang yang beramar makruf nahi mungkar seyogyanya bersikap lemah lembut agar tujuan dari amar makruf nahi mungkar tersebut bisa tercapai dengan baik. Masih dalam Syarh Sahih Muslim, Imam Nawawi menukil pendapat al-Qadhi ‘Iyadh, bahwa dalam nahi mungkar, seseorang dianjurkan untuk melakukannya dengan cara yang dia mampu. Baik itu berupa perkataan maupun perbuatan. Al-Qadhi ‘Iyadh mencontohkan dalam kasus peminum khamr bisa dengan membuang khamrnya, atau merusak alat-alat yang berupa kemungkaran. Dalam kasus ghasab, bisa dengan mengambil barang yang dighasab lalu dikembalikan kepada pemiliknya. Baik itu dilakukan sendiri ataupun dengan cara menyuruh orang lain.

Meskipun demikian, bukan berarti diperbolehkan melakukan nahi mungkar dengan kekerasan. Al-Qadhi ‘Iyadh masih memberikan batasan-batasan tertentu. Apabila melakukan nahi mungkar terhadap orang zalim yang memiliki kedudukan dan berpotensi memunculkan tindakan buruk, nahi mungkarnya harus dilakukan dengan cara yang lembut. Karena dengan demikian, tujuan nahi mungkar dapat tercapai tanpa menimbulkan kekerasan yang baru. Beda halnya jika yang dihadapi adalah orang yang kezalimannya sudah kelewat batas, maka nahi mungkar bisa dilakukan dengan cara yang lebih tegas. Namun tetap dengan catatan apabila ketegasan tersebut tidak menimbulkan kemungkaran lain yang lebih besar.

Sesuai dengan hadis yang telah disebutkan di atas, ketika mengubah kemungkaran dengan perbuatan dirasa tidak mampu, opsi selanjutnya adalah mengubahnya dengan perkataan. Imam Syafii pernah berkata, orang yang memberi peringatan kepada saudaranya tidak di hadapan khalayak, maka ia telah berbuat baik kepada saudaranya. Sedangkan orang yang mengingatkan saudaranya di muka umum, maka ia telah menjelek-jelekkan saudaranya.

Masih dalam konteks nahi mungkar dengan lisan, Imam Haramain menganjurkan agar melaporkan kemungkaran tersebut kepada pihak yang berwenang apabila nahi mungkar dengan perkataan sendiri dirasa tidak mampu atau malah berpotensi timbul kemungkaran baru yang lebih besar.

Epilog

Kendati amar makruf nahi mungkar merupakan perbuatan yang berhukum wajib, seseorang dilarang mencari kesalahan orang lain atau memata-matainya agar menemukan kemungkaran untuk dihilangkan. Imam al-Mawardi sendiri melarang untuk memata-matai orang lain yang belum jelas melakukan keharaman.

Wal-hasil, dalam amar makruf nahi mungkar yang perlu digaris bawahi adalah melakukannya dengan sesejuk mungkin dan tanpa menimbulkan konfrontasi balik. Baik nahi mungkar dengan perbuatan maupun perkataan. Baik itu dilakukan sendiri atau dengan meminta bantuan orang lain.

Categories: Artikel

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *