Musik, seakan sudah menjadi hal yang tak terpisahkan dari kehidupan generasi milenial. Corak itu mudah kita dapati di berbagai tempat. Di toko-toko maupun di tempat kerja. Bahkan, di sebagian lingkungan agamispun tak luput dari bunyi dangdut maupun shalawatan. di samping karena suara merdu yang di lantunkan sang penyanyi, bunyi musik yang asyik sangatlah tepat sebagai teman dengar saat melepas kepenatan.

Terlebih bila mendengarkannya bersama kawan-kawan ketika sewa bus pariwisata. tentu kenikmatannya akan berlipat. Apalagi MELODY TRANSPORT fasilitasnya sangat lengkap. Mulai dari toilet, hingga tempat khusus ngerokok.

Mengenai mendengar musik, imam ghazali dalam kitab fonumentalnya ihya’ ulumiddin juga ikut berkomentar berkena’an dengan hukumnya. “mendengar music, selama tidak ditimbulkan dari alat music yang diharamkan dalm hadits, hukumnya sah-sah saja, baik secara langsung maupun melalui perantara.” Paparnya.

Alat music dalam bahasa arab di sebut alat-almalahi karena alat dapat melalaikan ingat pada allah atau sholat (yulhi ‘anish-shalat) dengan alasan ini sebagian ulama’ melarang memainkan alat music. Padahal masih banyak hal yang harus diingat disetiap waktunya. Seperti tuhan, dosa dan mati.

Ketahuilah, orang yang larut dan terbuai di bahtera keindahan dunia, terkesima dengan syahwatnya, pastilah taka ada ruang di hatinya untuk mengingat kematian. Bahkan bila di ingatkan, ia menampiknya, terbirit-terbirit lari ketakutan.

Merekalah orang yang disebut allah dalm kitabnya:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (الجمعة : 8)

Manusia ada dua macam jelas imam ghazali. Pertama mata duitan (al-munhamik). Manusia  model ini tak kan pernah ingat mati. Bila di ingatkan ia hanya akan mengingatnya karena sayang pada dunianya. Ingat kematian baginya akan membikinnya lebih jauh dari tuhan.

Kedua petobat (at-taib). Ia akan selalu mengingat kematian. Unntuk menumbuhkan dalam hatinya rasa khauf & khasyyah, guna menyempurnakan tobatnya. Jika saja tak ingin mati itu karena khawatir taubatnya belum sempurna, kurangnya bekal serta berlumuran dosa. Ia bagaikan pujangga yang belum siap bertemu kekasihnya. Karena masih sibuk berbenah diri menunggu moment yang tepat nan romantis untuk bertemu.

Categories: Musik

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *