Hai para sahabat HitupMP3, kali ini saya sedang gereget menulis sesuatu yang berkaitan dengan pelacakan. Khususnya, saat ada rilis GPS pelacak mobil yang super akurat dari Start GPS. Namun, karena saya sadar diri bahwa saya tidak memiliki basic di bidang otomotif, saya akan menulis sebagaimana santri pada umumnya, yakni perihal melacak kapasitas hadis. Tulisan ini juga akan menjadi pengantar memahami Takhrijul Hadis.

“Semoga Allah mencerahkan wajah orang yang mendengar perkataanku lantas ia menghapalnya, kemudian mennyampaikan pada orang yang tidak mendengarnya”( HR: at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Abi Dawud)

DR Hatim bin Arif bin Nasir al-‘Auni -seorang dosen Universitas Umul Qurâ, Makkah- melakukan penelitian terhadap 112 pelajar tentang ilmu Hadis, apakah mereka kesulitan dalam memaham ilmu Hadis? Ternyata hasilnya sekitar 71,5% menjawab iya dan sekitar 28,5 % menjawab tidak. Tentu hasil ini cukup mengejutkan mengingat Hadis merupakan sumber  rujukan kedua setelah al-Quran. Maka sebab itulah para cendikiawan muslim mencoba mengkampanyekan gerakan cinta Hadis untuk para pelajar, salah satunya dengan memperkenalkan sejak dini metode takhrijul Hadis.

Pengertian takhriju al-Hadis

Kata takhij adalah kata asal dari kata kerja akhraja yang secara bahasa berarti mengeluarkan sesuatu dari tempatnya. Secara tirminologi takhrijul Hadis adalah melacak rawi dan status Hadis pada kitab-kitab Hadis yang ada.  

Adapun takhrij menurut istlah ahli Hadis memiliki tiga macam pengertian: 

Pertama, Usaha mencari sanad Hadis yang terdapat dalam kitab Hadis karya orang lain, yang tidak sama dengan sanad yang terdapat dalam kitab tersebut. Usaha semacam ini dinamakan juga istikhraj. Misalnya kitab “Al-Mustakhraj Ala Shahih Al-Muslim” karya Imam Al-Hafidz Abu Nuaim Al-Asbahani. Dalam kitab tersebut,Al-Asbahani mentakhrij Hadis-hadis yang ada dalam kitab Shahih Muslim menyebutkan beberapa sanad yang tidak sama dengan sanad yang disebutkan oleh Imam Muslim sendiri. Kedua, Meriwayatkan Hadis disertai dengan menyebutkan mata rantai sanadnya. Ketiga, Mendeteksi setatus dan sanad suatu Hadis yang tidak diterangkan oleh perawi atau pengarang suatu kitab. Lalu memberikan memberikan komentar tentang sanad dan status Hadis tersebut. 

Takhrij Hadis dengan model semacam ini sering dilakukan oleh kontemporer (setelah abad ke-3 sampai sekarang). Misalnya Jamaluddin Al-Hanafi yang mengkaji Hadis-hadis yang ada dalam kitab tafsir al-kasysyaaf karya al-Zamakhsyri. Lalu hasil kajiannya tersbut dibukukan dengan judul takhrij al-Hadisil kasysyaaf. Dan Abdurrahim Al-Iraqy yang mentakhrij setatus Hadis-hadis yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali. Hasil kajijan Al-Iraqy kemudian dibukukan oleh Al Mugny An Hamlil Asfal dengan judul Takhriju Ahâdisi Ihya’.

Seberpa Penting Takhrij?

Faktanya, tidak semua orang menyadari akan pentingnya mentakhrîj sebuah Hadis. Banyak orang –biasanya para orator- yang meriwayatkan matan Hadis semata tanpa menyebut mata rantai sanad dan menjelaskan setatus dan kapasitas Hadis tersebut. Padahal takhrij  sangat penting, terutama bagi mujtahid yang akan mencetuskan hukum syarak. 

Sebab dengan mengetahui mata rantai tranmisi Hadis, Hadis tersebut bisa diketahui kapsitas keabsahannya untuk dijadikan sebagai argume syarak. Disamping itu, orang yang mengetahui kapsitas Hadis, tidak akan gampang-gampang meriwayatkan Hadis dengan mengatasnamakan Nabi, kalau ternyata Hadis itu “Barang siapa berbohong mengatasnamakan diriku maka persiapkanlah tempat di neraka” [HR: Bukhari & Muslim].

Secara garis besar ada beberapa manfaat takhrijul Hadis antara lain sebagai berikut:

Pertama, menjaga keutuhan dan kelestarian Hadis-hadis Rasulullah sehingga tetap eksis sampai hari kiamat. Kedua, dapat memberikan informasi terhadap kapasitas Hadis (shahih, hasan dan dhaif).

Ketiga,  mengetahui Hadis yang bisa dijdikan hujjah dan tidak. Keempat, memberikan kemudahan bagi orang yang mau mengamalkan isi Hadis -setelah tahu bahwa Hadis tersebut berkapsitas  maqbul (dapat diterima)- Dan tidak diamalkan apabila diketahui bahwa derajat Hadis tersebut mardud (tertolak). Kelima, menguatkan keyakinan bahwa suatu Hadis adalah benar-benar berasal dari Rasulullah apabila derjat Hadis tersebut mapan (shahih) dalam segi sanad maupun matan.

Langkah Mentakhrij Hadis bagi Pemula

Ketika pemula mendengar Hadis yang tidak disertai dengan sanadnya. Maka langkah awal mengetahui sanad Hadis tersebut dengan takhrîjul hadits ‘an thariqil matni (melacak hadis melalui redaksinya). Cara ini bisa dilakukan dengan melalui dua cara: 

1- Melihat kalimat awal redaksi Hadis, misalnya mentakhrij Hadis “Innama al-Almal bi an-Niat“. Kemudian cari kata innama dalam kutubu at-takhrij (kamus Hadis) seperti kamus Hadis Al-Jamius-Shaghir karya as-Suyuti dan Mausu’atu al-Athraf an-Nabawiyah dll. Selanjutnya, kamus Hadis akan memberi tahu kitab-kitab yang memuat Hadis tersebut beserta sanadnya. 

2- Melihat penggalan kata dalam matan Hadis, metode ini lebih mudah dari pada metode pertama. Sebab kita tidak harus melihat kata yang pertama dalam Hadis untuk melacaknya. Misalnya Hadis “innamal a’mal bi an-niat” bisa dicari kata “innama” bisa juga kata “ala’lmal” ataupun kata “an-niat“. Dan kitab yang dibutuhkan adalah kitab mu’jamul mufahris karya Dr. Arnold Jhon Wensinck (W 1939 M) seorang orientalis berdarah belanda yang menjadi rektor di Universitas Leiden. Kitab tersebut merupakan kamus Hadis yang disusun berdasarkan penggalan kata. 

Kedua, Takhrijul Hadis an thariqi sanad (takhrij Hadis melalui mata rantai sanadnya). Cara yang kedua ini dilakukan dengan melacak nama rawi Hadis pada kitab-kitab khusus yang menajabarkan tentang semua profil dan seluk beluk para perawi Hadis, seperti tuhfatul asyraf karya al-Hafidz al-Mizzi.

Ketiga, takhrijul hadits bil maudhu’ (melacak Hadis melalui topiknya). Misalnya Hadis “Shallû kamâ raaitumunî ushallî”, maka Hadis ini ditelusuri sesuai dengan topiknya, yaitu salat. Kemudian carilah sesuai dengan abjad. Dan kitab yang dibutuhkan adalah kitab miftâhi kunuzi as-sunnah, kitab yang disusun oleh Muhamad Fuad Abdul Baqi (Hasil terjemahan dari kamus Hadis karangan orientalis yang berjudul “a Handbook of Early Muhammadan”).

Penutup

Pada saat ini, takhrij merupakan metode yang tepat dan mudah untuk melacak asli dan tidaknya suatu Hadis. Metode takhrij mudah untuk dipaham sehingga mudah diterapakn oleh siapa saja. Selamat mencoba. Wallahu a’lam. 

Categories: Artikel

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *