Dalam urusan khitbah (melamar), biasanya lelaki yang mendatangi wanita untuk dipinta. Namun bagaimana dengan wanita yang melamar lelaki? Mungkin ada yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tabu dan merendahkan nilai seorang wanita. Sebab wanita itu lebih identik dengan menunggu, bukan maju lebih dulu.

Adalah benar jika besarnya rasa malu yang ada pada diri wanita membuat mereka tidak mudah untuk menyatakan rasa cintanya terlebih dahulu. Wanita lebih sering menunggu seorang lelaki yang mendatangi rumahnya, menemui walinya dan menyatakan keinginan untuk menikahinya. Apalagi jika yang melamar itu adalah lelaki yang pasti. Pasti kualitas agamanya, juga pasti kualitas akhlaknya. Tak ada alasan bagi seorang wanita untuk menolak. Namun terkadang masalahnya lelaki yang berkualitas pasti tadi belum tentu datang. Jika memang demikian yang terjadi, tak ada salahnya bagi wanita menawarkan diri untuk dinikahi.

Seorang wanita yang menawarkan diri untuk dinikahi pernah terjadi pada zaman Rasulullah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan ada seorang wanita datang kepada Rasulullah dan menawarkan diri untuk dijadikan istri. “Ya Rasulullah, saya datang untuk menawarkan diri agar engkau nikahi.” Nabi Muhammad kemudian memperhatikan wanita itu, namun beliau tidak menunjukkan keinginan untuk menikahinya. Wanita itu duduk menunggu, lalu datang seorang sahabat seraya  berkata, “Ya Rasulullah, jika engkau tidak berkehendak untuk menikahinya, maka nikahkan aku dengannya.” Pada lanjutan hadis di atas, Rasulullah meminta sahabat tersebut mencari mahar meskipun hanya berupa cincin besi.

“Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan ada seorang wanita datang kepada Rasulullah dan menawarkan diri untuk dijadikan istri. “Ya Rasulullah, saya datang untuk menawarkan diri agar engkau nikahi.” Nabi Muhammad kemudian memperhatikan wanita itu, namun beliau tidak menunjukkan keinginan untuk menikahinya.”

Menawarkan diri pada lelaki salih tentu lebih baik daripada menanti lelaki yang belum pasti kedatangannya juga belum pasti kualitas agamanya. Bila kita menilik sejarah, Sayyidah Khadijah pun menawarkan dirinya kepada Nabi Muhammad karena ketertarikannya terhadap budi pekerti beliau. Awal mulanya Sayyidah Khadijah mencari informasi tentang Nabi Muhammad dengan cara mengutus karyawan beliau yang bernama Maysarah untuk mengikuti perjalanan dagang bersama Nabi. Setelah informasi cukup, Sayyidah Khadijah lantas mengutus Nafisah binti Munayyah untuk menjajaki kemungkinan dan penawaran sekiranya terdapat peluang untuk menikah.

Cara Perempuan Menawarkan Diri

Tentu saja dalam setiap lamaran ada dua kemungkinan. Antara diterima atau ditolak. Entah itu lelaki yang melamar wanita, ataupun sebaliknya. Namun di sini yang perlu ditekankan bahwa ditolak bukanlah suatu kehinaan, justru merupakan ladang kesabaran. Setidaknya bagi perempuan yang berniat menawarkan diri untuk menikah bisa melalui dua cara. Pertama, menawarkan dirinya secara langsung. Lamaran memang lazimnya dilakukan oleh lelaki, namun tak ada salahnya bila seorang wanita yang lebih dahulu mengutarakan keinginannya untuk menikah. Seperti disebutkan di atas. Pada zaman Rasulullah pun sudah ada wanita yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah untuk dinikahi. Apabila hal ini memang dilarang oleh agama, tentu Rasulullah sudah menegur wanita yang menawarkan diri kepada beliau. Bahkan Syekh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fathul-Majid menyebutkan wanita yang menawarkan diri kepada Rasulullah tidak hanya satu. Di sana disebutkan beberapa nama seperti Khaulah binti Hakim, Ummu Syuraik, Fatimah binti Syuraih, Laila binti Hatim, Zainab binti Khuzaimah dan Maimunah binti Harits.

Ummul Mukminin Maimunah adalah janda dari Abi Ruhm bin Abdul Uzza. Ada riwayat menyebutkan, dalam pernikahannya dengan Rasulullah, Al-Abbas bin Abdul Muthalib yang menjadi comblang keduanya. Al-Abbas menawarkan Ummul Mukminin Maimunah kepada Rasulullah di Juhfah. Lantas pernikahan tersebut digelar pada tahun 7 H dan sekaligus menjadi pernikahan terakhir Rasulullah. Riwayat lain menyebutkan bahwa Ummul Mukminin Maimunahlah yang menawarkan diri kepada Nabi. Karena prosesi lamaran Nabi berlangsung saat Ummul Mukminin berada di atas tunggangannya. Ummul mukminin Maimunah berkata, “Tunggangannya dan apa yang ada di atasnya (dirinya) adalah untuk Allah dan Rasul-Nya. Lalu Allah menurunkan ayat “Dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi ingin mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin.” (QS. Al-Ahzab : 50).

Kedua, melalui orang lain yang bisa dipercaya. Apabila memang seorang wanita tidak mampu untuk mengutarakan keinginannya secara langsung lantaran terhalang rasa malu, hal ini bisa diatasi dengan menyampaikan perasaannya melalui orang lain yang bisa dipercaya. Baik itu orang tua, saudara, atau temannya. Cara inilah yang dipilih oleh Sayyidah Khadijah ketika mengungkapkan keinginannya untuk menikah dengan Nabi Muhammad. Kala itu Sayyidah Khadijah menyampaikan perasaannya melalui seorang temannya yang bernama Nafisah binti Munayyah seperti yang telah diceritakan di atas.

Tentu saja diperbolehkannya seorang wanita menawarkan diri kepada lelaki yang salih memang karena menginginkan kesalihannya, menginginkan hidup bersama dengan mencari ridha Ilahi. Bukan sekedar karena dorongan syahwat dan ketampanan lahiriah semata. Sebagai wanita muslimah, tidak ada salahnya secara syar’i untuk mengajukan diri kepada laki-laki yang dianggap shalih dan baik menurut sudut pandang agama, serta punya kemampuan dan kesiapan lahir batin untuk berumah tangga. “Dan wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik” (QS. An-Nur : 26)

Baca juga Impresi Filsafat dalam Islam


1 Comment

cosplay · 27 Agustus 2021 at 16:43

cosplay

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *