Filsafat, falsafah, filsafah, ataupun philosofie telah dikenal manusia semenjak masa Yunani, kira-kira 2.000 tahun silam. Dalam bukunya, HAMKA memaparkan bahwa filsafat itu terbentuk dari dua kata, “philos” dan “sofos” yang kemudian dijadikan satu. Philos memiliki arti penggemar sedangkan sofos berarti hikmah atau ilmu. Hikmah disini merupakan bahasa Arab, yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan rahasia. Dengan demikian, seorang filsuf adalah orang yang gemar untuk “mencari rahasia”.

Banyak rahasia yang tersebar di alam ini. Saat memandang ke atas, tampaklah langit dengan gemerlap bintangnya. Saat menatap ke bawah, tampaklah bumi dengan tanah dan bebatuannya. Semua menyimpan hikmah, menyimpan rahasia. Sifat keingin tahuan manusia yang besar, mengantarkan mereka untuk menyingkap hikmah-hikmah itu. Timbullah pertanyaan, “apa ini?”, “dari mana datangnya?”, “mengapa seperti ini?”. Saat itulah manusia mencari hikmah, mencari rahasia. Mengenai hal ini, HAMKA menyatakan bahwa sejatinya manusia adalah calon filsuf, meskipun pada akhirnya hanya sedikit yang benar-benar menjadi filsuf.

Di Yunani, orang-orang memusatkan perhatian pada rahasia-rahasia itu. Meskipun sebelumnya, di Mesir telah ada dasar-dasar filsafat yang terbengkalai. Dasar-dasar filsafat yang belum tuntas. Aristoteles, Plato, Socrates, Pythagoras, Thales adalah sederet nama-nama dari para filsuf Yunani.

Saat kaum muslimin mencapai kebudayaan yang tinggi, pada masa khalifah al-Manshur, Harun ar-Rasyid, al-Ma’mun, para filsuf muslim menerjemahkan karya filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab. Dari sinilah kemudian ajaran-ajaran filsafat Yunani dipelajari oleh para pemikir Islam. Bahkan beberapa ulama terdahulu mempelajari ilmu filsafat Yunani dalam rangka mengoreksi dan mengkritik kekeliruannya. Maka dalam tradisi para ulama terdahulu sudah biasa terjadi adopsi sekaligus modifikasi ilmu yang berasal dari Yunani. Prinsip-prinsip yang bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan dibuang dan diganti dengan konsep-konsep Islami. Ini merupakan sesuatu yang alami dalam dialektika peradaban.

Kendati diantara ulama masih ada perselisihan hukum mempelajarinya, setidaknya ini menandakan bahwa agama Islam sendiri sejatinya tidak menutup mata terhadap masalah filsafat. Artinya, agama Islam memberikan ruang untuk mempelajari filsafat selama filsafat itu tidak bercampur dengan keyakinan-keyakinan menyimpang. Ar-Razi, al-Farabi, Ibnu Sina maupun al-Ghazali adalah diantara bintang-bintang filsuf Islam. Melalui salah satu artikelnya, Kholili Hasib, Peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) menyebutkan bahwa Ibn Rusyd dalam karyanya Fasl al-Maqal, menjelaskan urgensi mempelajari filsafat. Dalam keterangannya, Ibn Rusyd mengaitkan dengan pemecahan persoalan-persoalan dalam ilmu syariat. Ibn Rusyd mengungkapkan bahwa syariat Allah itu wajib diikuti dan membimbing manusia menuju kemuliaan. Filsafat di sini ternyata bukan filsafat anti-ketuhanan, dan sekular, namun cara berpikir mendalam, logis, teratur tanpa menafikan wahyu. Imam al-Ghazali mensyaratkan orang yang sudah memiliki dasar-dasar agama, berilmu dan cerdas yang boleh mendalami ilmu filsafat dan mantiq. Orang awam dilarang karena belum memerlukannya.

Al-Qur’an sendiri banyak menyinggung masalah filsafat. Masalah pencarian hikmah. Hal ini tercermin dari banyaknya ayat yang memerintahkan manusia untuk berpikir. “Apakah kalian tidak melihat pada unta, bagaimana ia diciptakan?; dan pada langit, bagaimana ia diangkatkan?; dan pada gunung, bagaimana ia ditancapkan?; dan pada bumi, bagaimana ia dihamparkan?” (QS. al-Ghasyiyah : 17-20). “Sesungguhnya pada kejadian semua langit dan bumi, dan pergantian malam dengan siang, adalah menjadi bukti bagi orang-orang yang mempunyai sari pikiran.” (QS. Ali Imran : 190). Tentu sangat menarik jika pencarian hikmah ini beriringan dengan tuntunan syariat. Saat manusia merasa buntu dalam pencarian hikmah, mereka mengembalikannya pada Allah, memohon hidayah kepada Sang Pencipta. Mereka menyadari bahwa akal mereka sangat terbatas. Sementara alam ini, dengan segala isinya mengandung hikmah yang amat banyak nan dalam. Konon inilah yang juga pernah dilakukan oleh Ibnu Sina saat mengalami kebuntuan.

Memang tak bisa dipungkiri jika mendalami filsafat tanpa adanya dasar akidah yang kuat, bisa terkena dampak negatifnya juga, yakni bisa tersesat diantara jalan-jalan pemikiran yang berbelit dan simpang siur. Ambil contoh Mu’tazilah dan Syiah. Sejarah menuturkan, diantara sebab penyimpangan kedua akidah ini adalah karena banyak bercampur dengan ajaran filsafat. Sebagaimana sudah maklum, mu’tazilah tumbuh di masa penerjemahan buku-buku filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab. Sedangkan Syiah tumbuh di Irak, daerah yang waktu itu menjadi pusat pertemuan peradaban maupun pemikiran.

Dengan demikian, pengaruh filsafat terhadap keilmuan Islam sendiri memiliki dua sisi. Pertama, sisi positif, jika ditilik dari bertambahnya cabang keilmuan dalam Islam. Hamid Fahmy Zarkasyi, salah satu peneliti INSIST (Institute for the Study of Islamic Tought and Civilizations) mencatat bahwa banyak orang yang tidak sadar bahwa wujud filsafat dalam Islam bisa ditemukan dalam ilmu-ilmu Islam seperti Tafsir, Hadis, Ushul Fikih, Ilmu Kalam, juga Tasawwuf. Kedua, sisi negatif, yakni ketika menilai bahwa filsafat itu berpengaruh terhadap akidah umat Islam sehingga muncul akidah menyimpang semacam Mu’tazilah. Dalam Tahafut al-Falasifah Imam al-Ghazali mengkritik prinsip pemikiran-pemikiran filsafat yang tidak sesuai dengan wahyu. Prinsip-prinsip filsafat Yunani dikritik karena bertentangan dengan konsep-konsep Islam.

Categories: Artikel

1 Comment

Melamar Perjaka Idaman - Rangkai Kata · 9 Januari 2020 at 08:28

[…] urusan khitbah (melamar), biasanya lelaki yang mendatangi wanita untuk dipinta. Namun bagaimana dengan […]

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *