HitupMP3.com Musik memang suatu yang tidak asing di indra pendengaran kita. Pasalnya, musik selalu membuat orang merasa terhibur, bahagia, dan dapat menghilangkan segala penat yang menancap pada otak. Sehingga banyak yang bertanya, sebenarnya, bagaimana hukum musik dalam Islam? Kita, sebagai penikmat musik dewasa ini, biasa berdalih bahwa suara merdu seseorang tentulah semakin indah dinikmati jika diiringi dengan instrumen-instrumen berirama. Keduanya, sesuai dengan yang diyakini banyak orang, akan berpadu untuk menambah nilai seni di dalamnya. 

Terlebih musik dangdut. Alunan melodi dangdut selalu membuat pendengarnya seakan beralun merdu mengikuti alunan yang bergema. Akan tetapi, pro-kontra tentang hukum musik masih terus berdebat. Percekcokan sangat banyak ditemukan ketika menelaah polemik ini dari kitab-kitab para pendahulu (kutubus-salaf).

Mengenai hukum lirik lagu di kalangan ulama masih terjadi kontradiksi yang rumit. Akan tetapi, mayoritas ulama mengatakan mubah selagi tidak memakai kalimat-kalimat yang tidak dilarang syariat. Para ulama bersepakat, bahwa kalimat yang menuturkan pesona fisik perempuan, ajakan bercumbu, dan lain semacamnya, yang ditujukan khusus pada seseorang hukumnya haram.

Berarti, dengan keterangan gamblang di atas banyak penyanyi zaman kita yang mengalunkan lirik lagunya dengan hukum haram. Kemudian, jika diiringi instrumen-instrumen yang menggunakan alat musik selain yang di perbolehkan dengan syariat, tidak dipungkiri lagi hukum yang tertera malah lebih jelas dan alatnya diperbolehkan oleh syariat. Dalam konteks tersebut, Imam az-Zarkasyi dan ar-Ramli menguraikan dalam kitab Hasyiyatul-Jamal, “Haram tidaknya memainkan instrumen musik, tidak lantas berpengaruh pada unsur lain yang dimainkan bersamaan. Jika ada unsur lain yang berbeda hukum, seperti lagu-lagu yang diperbolehkan, maka tidak terimbas hukum tersebut dan hal itu dihukumi boleh.” 

Terlebih jika seorang penyanyinya seorang wanita, sekalipun suara wanita bukan aurat, nyanyian memiliki nilai negatif. Dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin ini, al-Ghazali menyuguhkan keterangan terperinci mengenai hal itu. Nyanyian ketika dilantunkan oleh wanita dan didengarkan lelaki akan menumbuhkan kenikmatan tersendiri. Sesuatu yang nikmat memang tidak mutlak haram. Namun, kenikmatan yang timbul dalam problem ini, memiliki potensi besar membangkitkan syahwat dan birahi pendengarnya. Potensi inilah yang oleh al-Ghazali dijadikan titik tolak untuk menghukumi haram.

Penilaian al-Ghazali ini pula yang pada akhirnya menjadi titik temu mayoritas ulama Syafi’iyah. Artinya, mereka bersepakat ketika lantunan suara perempuan menjadi penyebab timbulnya fitnah, itu adalah perbuatan mungkar dan haram hukumnya.

Terlepas dari perdebatan perihal hukum musik dalam Islam, kami di sini teringat akan blog berisikan kumpulan kunci gitar baik dalam negeri ataupun manca negara. Situs Chord Gitar yang saya maksud ialah: music.navigasi.eu.org. Selamat mengunjungi!


0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *