Mala memberanikan diri masuk lebih dalam melewati gapura. Di samping kanan dan kirinya tercium bau aroma wangi yang ia sendiri tidak tahu bahwa itu dupa. Bulu kuduknya merinding, berdiri tegak seakan menyuruhnya untuk berhenti dan kembali. Tapi mala tak bergeming, ia tetap saja nekad. 

Dengan menyusuri jalan setapak itu, mala menemukan bekas rumah yang mirip balai desa. Ketika dipandang dari jauh, nampak bahwa tempat itu tidak terawatt dengan baik. Jendelanya saja hancur, sedangkan gentingnya banyak yang hancur. 

‘itu tempat apa’

Begitulah pertanyaan yang berdentam di hatinya. Apalah dirinya yang masih kecil mungil, pastinya selalu tertarik pada hal yang baru. Mala berjalan dengan hati-hati dan pelan, takutnya rumah itu berpenghuni dan menyebabkan yang punya rumah marah. Akhirnya mala sampai di depan rumah itu. Banyak sarang laba-laba yang bergantungan di awang-awang. Pintunya rusak. Mungkin itu sudah cukup sebagai tanda bahwa rumah itu tak ada orang yang menempati atau ada, tapi kenapa rumahnya dibiarkan tak terawat begini. 

Mala mencoba mendekat dan melihat ruangan dalam dari kaca yang tak lagi bening. Matanya ia edarkan tanpa mengerjap sedikitpun. Di dalam terdapat ruangan kosong. Hampir temboknya mengelupas. Tapi tunggu! ternyata mala melihat setidaknya ada beberapa foto yang menempel di dinding. Ia juga melihat ada dua buah almari di dalam. Rasa keingintahuannya semakin menjadi-jadi, mala kembali melangkah tuk memasuki rumah.

“Kreek.” Suara pintu berdenyit didorong tangan mungil mala. Baru kemudian senyap tak ada suara apapun, yang ada hanya suara degup jantung mala yang semakin berdetak tak beraturan. 

Mala penasaran dengan foto lusuh yang terpampang di dinding. Mala mendekat, melihat dengan berbagai macam tanda tanya di hatinya. 

Foto siapa itu?

Sebenarnya itu bukan foto tapi lebih menyerupai lukisan tangan, hanya saja mala tak tahu akan hal itu. Gampangnya itu lukisan seseorang yang memakai jubbah dengan jenggot lebat menghiasi wajah. Mala segera menepis angan penasaran. Baginya tahu siapa dibalik lukisan itu bukanlah hal yang penting. Mala-pun berpindah dengan melihat-lihat almari yang berada di arah kanannya. 

‘Hanya tumpukan buku yang lusuh’

Gumamnya dalam hati. Mala tidak tahu bahwa itu sekumpulan kitab kuning yang tersimpan aman, tanpa ada seekor rayap-pun yang berani mendekat. Karena tidak menggunakan jasa anti rayap terpercaya. Padahal kalau dilihat dari banyaknya sawangan (rumah laba-laba kecil) yang lumayan banyak, bisa dipastikan kitabku itu sudah lama berada di sana. Hanya saja mala tak berpikir panjang soal itu. Ia hanya bisa melihat dan mengambil kesimpulan sendiri.

‘Tapi ada yang aneh! Mengapa lemari satunya dibiarkan kosong melompong’

Ujarnya lirih. Kali ini mala menangkap suatu keanehan pada almari yang kosong melompong, tak ada isinya sama sekali. Agak lama mala mengamati, ternyata di dalam lemari itu seperti ada pintu. Hal itu bisa dibuktikan dengan gagangnya yang terpasang dan terbuat dari sepuhan kuningan. Mala mencoba membuka isi lemari.

“kreek.” Pintu lemari itu berdenyit cukup nyaring sehingga menyebabkan mala mengedarkan pandangan was-was di sekelilingnya.

Tangannya meraih gagang pintu itu. Ragu-ragu menyergap keingintahuannya. Tapi karena rasa penasaran terus berteriak padanya, mala sedikit-demi sedikit membukanya. Waktu pintu itu sempurna dibuka ternyata!

Pancaran cahaya yang amat mencorong keluar dari pintu itu dan menerpa tubuh mungilnya. Mala menutup matanya dengan kedua tangan mungil, sebelum akhirnya ada seseorang yang mendorongnya dari belakang sehingga menyebabkan ia masuk ke dalam pintu itum menembus pancaran cahaya yang bersinar mencorong itu. 

***

Mala terjerembab, tapi bukan di tengah makam atau di tempat yang mala kunjungi. Ia terjerembab di taman hijau yang luas. Rumput tumbuh subur setinggi mata kakinya. Udaranya segar, turut menyejukkan badannya. Banyak sekali bunga yang tumbuh merona, semerona pipinya sendiri. Tapi mala penasaran dengan bangunan yang berdiri gagah di tengah taman. Bangunan itu berkubah bundar dengan sepuhan emas yang mengkilap diterpa sinar matahari. 

‘Bangunan apa itu.’ Dirinya bertanya-tanya dalam hati.

Dengan langkah ragu, dirinya melangkah menuju bangunan berkubah emas itu. Sesampainya di depannya mala menganga takjub karena ada air yang mengalir dari arah bawah lantainya yang terbuat dari kaca yang cukup tebal. tiang penyangganya terbuat dari marmer putih. Sedangkan pintunya dipoles dengan emas dan perak dan dihiasi oleh intan permata pilihan. Sungguh mala sangat takjub melihat bangunan itu. Berbagai macam pertanyaan berseliweran memenuhi tempurung kepalanya :

Kenapa dirinya tiba-tiba berada di sini? Siapa tadi yang mendorongnya? Tempat apa ini sebenarnya? Dan bangunan apa yang berdiri megah di depannya? Mungkinkah ini yang namanya surga atau ini alam jin atau jangan-jangan!

Categories: Rangkaian

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *