Siang itu semua bangku sudah terisi olah para undangan. Karpet merah telah menjulur kesepanjang jalan. Serentak mereka berdiri lalu berjalan di atas karpet merah itu, dengan pandangan yang terus tertuju ke arahku. Mereka berjalan berarakan bagaikan camar putih meliuk-liuk di tengah deburan ombak sore. 

Aku, Naila dan orang tua kami berdiri guna mengucapkan terimakasih pada mereka yang telah meluangkan waktunya untuk menghadiri pesta pernikahanku. Karena ini adalah akhir dari acara pernikahanku. Satu demi satu para tamu pergi meninggalkan kami, hingga semuanya kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan aku masih melihat dia tertunduk dengan mata teduh. Entah apa yang membuat dia melamun di hari bahagia ini.

“Dek, nanti sore kita jalan ya.” Sapaku menyadarkannya.

“Ke mana mas,? jawabnya lirih.

“Udah, entar kita jalan aja.” Jawabku meyakinkan

“Oo,. Iya mas.

***

Waktu berputar dengan sendirinya. Matahari kini mulai turun dari pucuk langit menuju arah yang telah ditulis dalam lembaran waktu. Kami berdua berangkat menuju rumah pohon di tepi danau, yaitu rumah kecil yang dulu pernah hidup damai imajinasinya, yang pernah menyewa jasa desain rumah untuk membangunnya. Entah seperti apa ekspresinya nanti saat dia melihat rumah pohon itu. Selama di perjalanan, aku melihat ada beberapa kelinci berlarian di rerumputan dan burung yang berkicau di dahan-dahan. Semua makhluq itu seakan tidak terusik oleh kehadiran kami, atau mungkin memang seperti ini cara mereka menyambut kedatangan seseorang melalui paduan suara di beberapa dahan dan atraksi di tengah-tengah rerumputan. 

Tak terasa kami hampir sampai ke tempat yang ingin kami tuju. Aku meminta dia untuk menutup mata, kemudian aku tuntun menuju rumah pohon itu, dan tepat di depan rumah itu aku katakan “Sekarang kau boleh membuka mata”. Ia tersenyum melihat rumah pohon yang dulu pernah ia lukis, kini tidak gugur sebagai sebuah hayalan. Membuatnya mengenang memori tentang ilustrasi gambar di atas kertas. Ia terpaku di atas pijakannya dengan dua lesung pipi yang lahir dari senyumannya. Masih dalam senyumannya, awan sudah menggumpal membuat naungan yang kemudian memayungi tempat itu. Gemuruh guntur sudah terdengar dari beberapa arah. Kami bergegas masuk ke rumah pohon itu. Di dalam pohon itu, ia masih belum mengatakan sesuatu, dan matanya mulai berkaca-kaca ke beberapa sudut di tempat itu. 

***

Hujan hampir berhenti dan sinar matahari kini redup di ufuk Barat, diiringi gelap yang dihuni satu bulan dan ribuan bintang. Kami berdua duduk di atas teras rumah, dengan memandang bulan yang hadir di tengah-tengah ribuan bintang. 

“Akankah bulan dan bintang yang sangat dekat itu bisa bersatu di suatu saat?’ tanya istriku, Naila

“Jika bintang muda itu merupakan suatu bagian dari rembulan, maka dengan izin tuhan keduanya dapat bersatu. Namun bila bintang itu bukanlah suatu bagian dari rembulan, tentu rembulan akan selalu mengenangnya melalui beberapa lantunan do’anya, karena bintang muda itu pernah mewarnai kehidupannya,” jawabku dengan memperhatikan bintang-bintang di atas cakrawala. 

“Kau tahu, hidup tidak menuntut semua yang kita inginkan berhak untuk kita miliki. Dan semua yang kita miliki akan abadi untuk menemani.” 

“Kau juga pasti tahu bahwa hidup tidak pernah menghalangi kita untuk mewujudkan apa yang kita impikan. Hidup hanya memberi rintangan dan waktu yang senantiasa melekat pada sebuah impian. Kau tahu duri dalam hidup ini ialah di saat kita memikirkan apa yang akan terjadi esok hari.” Percakapan kami terhenti. Aku berdiri, lalu mengajak dia kembali ke rumah, sembari mengulurkan tanganku. Kami pun pulang. 

Di tengah perjalanan, tepatnya di sebuah tikungan tajam yang dekat dengan jurang, ada sebuah truk dari arah yang berlawanan yang melaju dengan sangat cepat. Sementara aku tidak menyadari kedatangan truk yang hampir mendekatiku. Lalu, gruabaakk… Kecelakaan pun terjadi. Aku terjatuh. Kepalaku terbentur, dan tubuhku terus menggulung-gulung di punggung jalan hingga akhirnya berhenti di genangan air yang dangkal. 

Pandanganku mulai samar, dan darah merah mengalir deras mewarnai genangan air tersebut. Sesaat kemudian, ada suara jeritan yang berasal dari dasar jurang dengan suara lantang dan begitu perih, jeritan itu terus terdengar beberapa kali sebelum akhirnya mataku terlelap dan tidak sadarkan diri.

***

Tubuhku terkapar lemah di rumah sakit, dikelilingi beberapa orang yang sama-sama saling memandangiku. Kemudian salah seorang yang berbaris di antara mereka menghampiriku, di mana Naila? sentaknya. Ia menyorotkan tatapannya tepat ke arahku. Ia menyentakku dengan terus mengulang pertanyaan yang sama. Tubuhnya meronta-ronta tanpa arah. Seketika itu juga ada seseorang yang membawanya keluar dengan paksa. Suasana menjadi sunyi kembali, menyisakan pertanyaan yang masih belum dapat aku pahami. 

Keesokan harinya aku diperbolehkan kembali ke rumah. Aku masuk ke kamar, lalu duduk di tepian kasur sambil membuka kertas undangan yang terselip di antara susunan bantal:

Tanggal: 29-Juli 2019

Acara     : Walimatul Urusy

Waktu   : 13:45 WIB

Tertantanda: Fuad dan Naila

Perlahan pecahan mataku mulai merajut kembali. Berawal dari cita-cita arti tentang senyum dan berakhir pada jeritan dari dasar jurang. Semua berkumpul dalam satu lingkaran, kemudian memunculkan pertanyaan yang sama, di mana Naila?

Aku segera bangun, bergegas menuju tempat kejadian tersebut. Setibanya di lokasi, aku hanya dapat melihat garis polisi berwarna kuning yang sudah mengitari tempat itu. Aku lanjutkan perjalananku menuju rumah pohon di tepi danau. Mungkin saat ini ia berada di sana, gumamku dalam hati. Saat aku hampir sampai, aku melihat pintu rumah itu terbuka. “Kali ini aku yakin ada di sana “ batinku yakin. Aku percepat langkahku menuju arah rumah itu, namun ketika sampai di sana, aku hanya dapat terdiam mendapati mimpi yang kini lebur dalam halusinasi. Dengan ditemani matahari yang sedari tadi bercermin pada danau dan diiringi kicauan burung yang bersahut-sahutan di kerimbunan pohon. Aku coba larutkan semua perasaanku yang masih tertimbun tanda tanya dalam selembar kertas putih. 
“Di tempat bisu ini, aku hanya dapat berhalusinasi akan waktu yang tak mungkin berdenting kembali. Mencoba menyusun puzle mimpi yang pernah tergambar di dinding ini. Masihkah kau ingat saat kita menatap bulan dan bintang di heningnya malam. Dan saat kau mengungkapkan arti kehidupan melalui pandanganmu. Kau katakan bahwa “Hidup tidak menuntut apa yang kita inginkan berhak kita miliki dan semua yang kita miliki akan abadi menemani”. Jujur, kini aku mulai memahami apa arti kata-katamu. Mungkin lebih tepatnya, hidup bukanlah apa yang pernah kita rasakan atau apa yang nanti akan kita rasakan. Tapi, hidup adalah apa yang kita rasakan saat ini.” 

Categories: Rangkaian

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *